Minggu, 30 Oktober 2016

Post Kilat

Anjay.

Batere laptop bocor, dan gue kudu beli batere yang baru biar tetep bisa on.
Okeh keluar gocek lagi dah.

Eniwei,
gue pake laptop temen bentar buat nulis blog ini buat beritain kabar buruk itu.
Really really bad things happen to me.
Selain beli batere baru,
Share:

Jumat, 28 Oktober 2016

I Need Some Help! Laper...

Kenapa gue jadi jarang bikin postingan di blog?
Jawabannya sangat simpel:
gue gak tau harus nulis apa!

Entahlah, pikiran gue lagi buntu tapi pengen banget buat cerita. But sometimes, mood gue bisa berubah menjadi lebih baik saat menulis. Dengan menulis, gue bisa mencurahkan semua masalah gue lewat kata-kata. Gue nganggep tulisanlah yang paling bisa ngertiin perasaan gue, cuman lewat tulisan gue gak perlu takut dan malu untuk cerita tentang apa saja. Semuanya ngaliiiirrr gitu aja, tanpa beban. Seperti bercerita dengan seorang sahabat, tulisan bisa lebih dari itu. Dari zaman gue masih SMA, gue sering nulis di blog ini tentang berbagai masalah kehidupan gue. tapi sekarang, dan entah kenapa, pikiran gue jadi kesumbat. Gue gak bisa ngeluarin apa yang ada di kepala gue untuk gue ceritakan.

Menimbulkan mood untuk menulis itu memang susah. Gue lebih suka menulis dengan tipe
Share:

Jumat, 23 September 2016

Unblessed

To the point:

Gue pernah menjalin hubungan dengan seseorang; teman kuliah, teman seperjuangan, teman satu angkatan. Masing-masing dari orangtua kita tidak menyetujui, dengan alasan 'jangan menjalin hubungan serius dengan orang berbeda prinsip'. Awalnya gue ngotot mempertahankan hubungan, karena masih ada pihak yang menyetujui, hingga akhirnya di tahun ke-2 gue menyudahi hubungan dengan perempuan ini karena perbedaan prinsip agama dan pandangan hidup yang tidak sejalan.

Di saat gue pusing akibat masalah itu, gue jadi deket dengan seseorang, yang sebenernya dulu pernah gue suka.
Baidewei, orangtua gue pernah bilang jangan sampai terlalu dekat dengan dia, dengan beberapa alasan tertentu. Mereka berkeras dan memberikan wejangan yang menurut mereka baik buat gue. Namun, setelah beberapa waktu berjalan, gue hampir sering ketemuan sama dia. Dan di saat itu dia menanyakan sesuatu hal kepada gue:
Share:

Rabu, 03 Agustus 2016

Belajar Dari Seorang Pramugari

Ketika duduk sendirian di sebuah tempat makan di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta,
gue tersadar:

Sebuah perpisahan tidak seharusnya diiringi dengan kesedihan.
Justru malah sebaliknya.
Kita harus dengan ikhlas melepas kepergian seseorang, dengan senyuman.

Seperti seorang pramugari Lion Air yang gue jumpai hari itu.
Dia, tanpa merasa kehilangan dari penumpang yang telah memberinya rezeki,
melepas kepergian mereka dengan senyuman manis.

Mungkin gue harus belajar dari seorang pramugari itu.
Gue harus dengan ikhlas merelakan kepergian si dia,
ya, dia yang saat ini sudah berubah status menjadi mantan.

Terima kasih.
Seperti yang pramugari itu ucapkan ketika para penumpang turun keluar dari pesawat.

Dengan senyuman manis tersungging di bibir, gue ucapkan:
Terima kasih.
"Terima kasih atas satu setengah tahun yang istimewa ini"
Share:

Senin, 01 Agustus 2016

Bipolar

Saat ini gue bener-bener gak bisa konsen buat nulis apa-apa.
Bener-bener gak bisa dapet mood yang enak.
Ketika mau nulis sesuatu, I'm totally blinded. Isi kepala gue seakan tersumbat oleh sesuatu yang gak bisa gue lihat sendiri.
Perasaan gue kacau.

Sudah kesekian kalinya, dan malam ini, gue berusaha duduk tenang di depan meja, mencoba untuk menumpahkan semuanya lewat tulisan.
Beberapa hari yang lalu, gue pengen banget nulis sesuatu. Saking antusiasnya, gue sampai membawa laptop ke rumah temen, berharap disana gue bisa dapet inspirasi. Ketika disana, kepala gue malah tiba-tiba puyeng. Kemarennya lagi, ketika dalam perjalanan pulang dari Banjarmasin, gue mencoba memejamkan mata sejenak di kursi belakang, berusaha mengingat hal-hal yang pernah gue lewati, dan menuliskan beberapa kata. Hasilnya, cuma kalimat-kalimat absurd tanpa makna. Intinya, dari sekian banyak masalah yang ada, gue gak bisa ceritakan semua.

Beberapa minggu ini pun pola tidur gue berubah drastis.
Gue hidup bagaikan kelelawar, bangun di malam hari dan tidur di siang hari.
Gue gak bisa tidur walaupun mata gue udah minta istirahat. Entah kenapa, tapi semuanya terasa aneh, ada perasaan dan pikiran yang tak biasa. Kadang, jam 3 pagi baru gue bisa tidur pulas. Akibatnya keesokan hari badan gue lemes. Bangun tidur pun ketika hampir azan zuhur berkumandang. Gue keluar kamar hanya untuk mandi dan makan. Abis itu gue nyambung tidur lagi hingga sore.

Keadaan kayak gini bener-bener bikin gue stres.

Hal ini membuat gue jadi berpikir satu hal:
apakah memang benar ini yang dinamakan manic depressive?
sebuah ketidaknyamanan bisa membuat perubahan buruk dalam hidup seseorang?

PS: besok lusa gue bakalan pergi sejenak, melakukan ekspedisi seorang diri, selama 4 hari...
mungkin gue sangat butuh liburan. tebak mau kemana...
Share:

Jumat, 15 Juli 2016

Planning dan #dancobroders

Gila. Satu minggu kemaren jadwal gue kayak pantat.
Bener-bener bikin pusing.
Jumat minggu lalu masih dalam suasana-suasana lebaran ngumpul dengan keluarga besar di Banjarbaru dan pulang hari itu juga, sabtu balik lagi ke Banjarmasin menghadiri acara halal bi halal warga Tapin dan ternyata gagal total, senin pas hari pertama masuk kerja gue menemui lurah di kantornya buat minta tandatangan dan disambut dengan sokon yang datang berkunjung dari Banjarbaru, selasa pergi ke SMA buat melegalisir ijazah dan pulangnya langsung menghadap Kepala BKD serta menjalankan rutinitas dengan purna-purna hingga sore hari, rabu ngumpul dengan IKAPTK Kabupaten Tapin, kamis pergi menemani sokab gue ke kantor BPPKB buat minta data dan pulangnya langsung menengok latihan capaskibraka Tapin di alun-alun, disamping itu tiap harinya gue meluangkan waktu buat ngumpul dengan keluarga dan temen-temen hingga malam hari, dan hari ini, Jumat: gue baru bisa beristirahat dengan tenang. Satu hal yang bisa gue katakan untuk menggambarkan seluruh kegiatan tersebut: DENGKUL KERING.

Gue inget, malam hari raya minggu kemaren saat ngumpul dengan temen-temen mereka ngomong:

Mereka: eh, malam ini koala kumal sudah tayang laaah..
Gue: HAH?

Gue yang awalnya pertama kali merencanakan buat pergi nonton bareng mereka minggu kemaren,
lupa.

Mereka: jadi pabila jua kita caow nih? (jadi kapan juga kita berangkat?)
Gue: terserah, aku akur aja.
Mereka: ya langsung, atur!

Dan terjadilah hari-hari berat itu.
Pada akhirnya, kami baru bisa menetapkan perjalanan kami sabtu besok hari buat berangkat sama-sama.

On the other side, di saat yang sama kita kumpul-kumpul dengan temen-temen malam itu, gue ketemu lagi sama 'masalalu'. Ya, masalalu yang sempet ada di blog ini. Sekarang kita udah biasa aja, temenan sewajarnya. Lupakan... sekedar informasi.

Pada jam 22:00, kita beranjak pergi ke kawasan Rantau Baru buat ikut pelepasan lampion. Kalo boleh jujur, gue kesana karena ingin melepaskan lampion dengan seseorang. Gue udah nyoba ngubungin dia lewat line dengan akun yang masih ada di hape gue. Gak ada tanggapan, gue berinisiatif buat datang sendiri kesana dengan membawa temen-temen gue segerombolan. Gue yakin dengan pasti, dia pasti memang akan kesana juga.

Di perjalanan gue berpikir banyak, seru aja rasanya kalau bisa ngobrol dengan salah satu orang yang kita taksir dulu, kita jadi tahu apa yang salah dan jadi sedikit lebih ngerti lebih jauh tentang diri gue sendiri. Dan dalam hubungan gue dengan Ika pacar gue selama ini, kita udah sering terjadi komunikasi yang gak lancar. Masalah internal kami, masih menjadi bayangan yang mencampuri perasaan gue. Setidaknya, untuk saat ini, dengan hubungan yang tidak pasti ini dengan Ika, gue sambil membuka hati untuk orang lain (yang mungkin lebih baik dari dia).

Satu jam kemudian, di tengah-tengah pelepasan lampion,
dia, ehm, "yang diharapkan", berjalan mendatangi gue.

Pertanyaan itu pun timbul: Apakah dia ini, yang gue cari?

Perasaan gue saat itu, perasaan aneh saat ingin menyelesaikan masalah yang pasti tidak bisa diselesaikan dan berusaha untuk menemukan orang yang tepat menjadi semacam pencerahan bagi gue. Bagi gue, mulai saat ini gue akan baik-baik aja.

Mungkin, dan terbesit rasa yakin dalam diri gue, hubungan gue dengan Ika memang tidak akan berhasil. Walaupun seberapa keras kita berdua menyelesaikan masalah itu, gue tetap tidak bisa melawan prinsipnya dan mematahkan hati orangtuanya.

Sekarang, gue udah mulai mencari seseorang, berusaha menemukan kecocokan kembali dengan orang lain, menemukan sisi-sisi romantis yang baru, sesuatu untuk diingat di masa depan. Walaupun gue tau itu memang tidak mudah.

Seperti dengan dia "yang diharapkan" ini.
Sedangkan perasaan gue untuk saat ini, digambarkan jelas oleh kalimat dalam film 3 Idiots:
"All is well"

Dan di kamar,
lagu Those Years-nya Hu Xia membuat gue pengen jungkir balik.
Share: