Senin, 18 Februari 2013

Proposal For God

                             
Pada awal tulisan ini, aku ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada pencipta jiwa dan raga ini, Allah SWT, yang telah memberikan berkah yang sangat luar biasa berupa kesehatan dan umur yang panjang. Realitas tertinggi yang tak akan dapat terjabarkan oleh jutaan puisi dan kata-kata, segala karunia-Mu di seluruh jagat raya menjadi inspirasi dalam setiap karya, segala puji seluas langit dan seluas bumi hanya kepada-Mu. Juga kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW, manusia sempurna yang pernah terlahir di dunia ini sebagai penerang sekaligus penuntun ke jalan yang benar.

Tuhan, lewat tulisan ini aku ingin berbincang sebentar. Menitipkan surat kecil ini. Kutuangkan berjibun kata-kata dan harapan yang sulit kuungkapkan.

Namaku Bayu. Lengkapnya Bayu Firdaus Agustyannoor, yang memiliki arti Angin Surga Firdaus Di Bulan Agustus’. Aku dulu terlahir dari keluarga yang bisa dibilang sederhana. Waktu ibuku masih mengandung, ibuku masih yudisium sarjana. Sedangkan ayahku waktu itu masih bekerja di Dinas Kesehatan. Aku dilahirkan di kota Rantau, tepatnya hari Kamis tanggal 31 Agustus 1995. Di kota itulah aku dibesarkan mulai dari kutu dalam rahim hingga besar seperti sekarang.
Kegiatan akademisku dimulai dari umur 4 tahun. Aku bersekolah di TK Tunas Tapin. Tidak banyak yang kuingat pada waktu aku bersekolah disini. Yang kuingat hanyalah aku dulu suka merengek minta pulang. 



Dan pada umur 6 tahun, aku bersekolah dasar di SDN Rangda Malingkung 5, tidak jauh dari rumahku. Dari kelas 1 sampai kelas 3 aku masih menggunakan jasa antar-jemput. Tapi setelah aku dibelikan sepeda dan diajarkan ayahku, aku mulai berani pergi ke sekolah sendiri. 

Banyak hal yang aku dapat dari sekolah ini, seperti persahabatan yang sampai sekarang masih terjalin, dan sering sekali kami berkumpul bersama walaupun tidak semua datang karena kesibukan masing-masing.



Setelah aku lulus SD, aku ragu-ragu ingin melanjutkan ke sekolah mana. Aku ragu apakah harus ke MTsN 2 atau SMPN 1. MtsN 2 letaknya sangat dekat dengan rumahku, cukup dengan naik sepatu alias jalan kaki sampai ke sekolah tersebut. Tapi ayahku memberikan satu syarat, kalau aku sekolah ke SMPN 1, ayahku akan membelikan motor untuk pulang-pergi ke sekolah. Dan akhirnya, aku memilih untuk melanjutkan ke SMPN 1. Walaupun jaraknya cukup jauh, tapi akhirnya aku dibelikan ayahku sebuah motor. Satria-F, itulah kuda besi milikku.

Dari sekian banyak siswa-siswi yang mendaftar di SMPN 1, akhirnya aku lulus tes dengan peringkat ke-8. Aku senang sekali bisa diterima disekolah itu. Awal aku menduduki masa-masa SMP serasa berbeda sekali. Kelas VII dari semester 1 sampai semester 2 aku memasuki peringkat 10 besar. Walaupun tidak masuk ke 3 besar, itu tidak membuatku malas untuk belajar lebih giat.

Di kelas, aku terkenal sebagai murid yang pendiam. Aku tidak banyak bergaul dengan teman-teman yang lain. Sehingga, sering kali aku duduk-duduk dan melamun sendiri waktu pelajaran kosong.

Waktu aku naik ke kelas VIII, aku mulai bisa bergaul dengan teman-teman yang lain. Bahkan aku sempat ‘menjabat’ sebagai ketua kelas. Di kelas VIII ini juga, aku mulai mengenal seseorang. Bukan yang pertama, tapi untuk yang terakhir di dalam hidupku.


******
Mungkin aku akan menceritakan sedikit tentang sejarah singkat pertemuan cinta ini. Waktu itu aku adalah salah satu anggota pramuka setengah rajin. Perkemahan di luar daerah tentu yang pertama kalinya bagiku. Sekolahku mengirimkan satu regu laki-laki dan satu regu perempuan. Ada salah seorang kaum hawa yang diam-diam aku sukai. Namanya Nana Lufiana. Tapi, mungkin saat itu aku masih bocah sehingga tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaan suka ini. Hari-hari yang menyenangkan di bumi perkemahan seperti sebuah restu akan hadirnya sebuah perasaan cinta yang mendalam. Berbagai kegiatan kepramukaan semakin mendekatkan kami sehingga kami menjadi teman dekat.

Seminggu setelah pulang dari perkemahan, aku diikutsertakan dalam sebuah lomba FLS2N (Festival & Lomba Seni Siswa Nasional) di Banjarbaru. Aku memiliki bakat seni yang jarang dimiliki oleh anak laki-laki, yaitu seni tari daerah Tirik Lalan.

Lomba tersebut diselenggarakan selama 3 hari. Hari kedua, tepatnya tanggal 8 Mei 2009, sesaat sebelum waktunya shalat Jumat, aku mendapatkan telepon dari seorang yang ku sukai, Nana, yang entah kenapa belum pulang dari sekolah. Aku kurang ingat tentang pembicaraan kami waktu itu, tapi setelah itu kami sambung dengan saling kirim SMS. Dia curhat, dan saat membaca SMS dari nya, dia mengungkapkan segala perasaan tersembunyinya padaku. Tuiiinngg! Aku serasa terbang melayang lalu jatuh nyungsep karena tidak pakai sayap. Jantungku yang sebelumnya berdetak normal, sekarang menjadi abnormal karena berdegup sangat kencang.

Sejak pembicaraan yang mengesankan itu, hubunganku dengan gadis yang bernama Nana Lufiana berlanjut menjadi hubungan yang dihiasi bintang-bintang bercahayakan rona-rona asmara. Dan atas pendekatan yang serius, aku pun jadi klepek-klepek.

******

Di kelas IX, aku mulai khawatir kalau nilaiku tahun ini tidak baik. Karena di tahun ini, aku akan menghadapi ujian. Kegiatan-kegiatan pelajaran tambahan di sekolahpun kuikuti. Bahkan aku ikut bimbel di Primagama untuk menambah prestasi belajarku.

Saat-saat sebelum ujian nasional tiba, aku mengikuti try out di sekolah, dan hasilnya sangat memuaskan, aku lulus dengan nilai yang sangat memuaskan pada semua mata pelajaran.

Ujian nasional pun tiba !!

Dengan penuh rasa percaya diri plus grogi, aku memberanikan diri untuk tidak menyontek dalam ujian. Hasilnya sangat memuaskan, dengan nilai rata-rata diatas delapan aku berhasil lulus dalam ujian nasional. Dan begitu pula dengan nilai ujian sekolahku. Hati beta senang sekali. Akhirnya beta bisa lulus ujian juga. Yeeeeeee...


Akhirnya aku bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. SMAN 1 Rantau, itulah tujuanku. Aku memilih sekolah disini karena SMAN 1 adalah salah satu SMA favorit.

Ada sebagian orang yang mengatakan, masa-masa SMA adalah masa dimana seseorang mencari jati diri. Dan di sekolah ini aku benar-benar mendapatkan banyak hal baru. Mulai dari teman-teman baru dan beberapa pengalaman-pengalaman seru bersama teman-teman.

Aku akhirnya memilih untuk masuk kelas unggulan. XA, itulah kelasku. Di kelas unggulan ini berbeda dengan kelas reguler lain. Fasilitasnya lebih lengkap. Seragamnya pun beda dengan kelas lain ketika hari Rabu-Kamis. Jam pelajarannya juga bertambah hingga pukul 4 sore. Awalnya aku merasa lelah dan ngantuk, tapi lama-kelamaan aku sudah terbiasa.

Guru wali kelas kami bernama Annie Wahyuni, S.Pd, yaitu kaka sepupuku sendiri. Aku jadi lebih mudah bertanya soal pelajaran-pelajaran di sekolah. Kadang-kadang, aku juga sering bercerita dengan beliau tentang kelakuan-kelakuan teman-temanku yang menyebalkan.

Aku mempunyai hobi nonton film. Aku adalah salah satu penggemar film, atau sering orang menyebutnya maniac film. Aku selalu mendownload dan mengumpulkan berbagai macam genre film, mulai dari action, animation fiction, sci-fi, fantasy, drama, comedy, horror, hingga thriller. Produksinya pun ada yang dari dalam dan luar negeri.

Pada waktu santai di sekolah, aku selalu berbagi film dengan teman-temanku. Sering kali kami sekelas nonton bareng dengan menggunakan LCD, jadi kami merasa seperti nonton di bioskop.

Film yang paling kugemari adalah Final Destination. Film itu menceritakan sekelompok orang yang mencurangi Kematian. Film itu menampilkan berbagai macam kematian yang mengerikan dengan cara yang tidak wajar. Karena itulah, aku sangat menyukai film tersebut.


Aku juga menyukai pelajaran bahasa Inggris. Hal apapun yang mengenai bahasa Inggris, seperti lagu. Aku lebih menyukai lagu dari luar negeri ketimbang dari negara sendiri. Lagu dari negara sendiri, menurutku sangat tidak bermutu karena selalu mengobral masalah cinta. Karena aku seorang maniac film, aku suka mentranslate subtitle bahasa Inggris. Karena seringnya aku mentranslate, aku semakin memahami arti dari berbagai kata bahasa Inggris.

Nilaiku ketika di SMA ini mulai merosot tajam. Ketika ulangan semester 1, ada satu mata pelajaran yang belum tuntas. Sedangkan nilai-nilai mata pelajaran yang lainnya, hanya sebatas KKM saja. Aku khawatir kalau nanti aku sempat tidak naik kelas. Dan mulai saat itu, aku berusaha untuk meningkatkan prestasi belajarku. Karena targetku untuk masuk jurusan nanti, adalah masuk jurusan IPA. 

Di kelas X ini, aku mengikuti kegiatan ekstrakulikuler Paskibra di sekolah untuk memilih anggota-anggota untuk calon Paskibra di kabupaten. Alhamdulillah, aku lulus seleksi di kabupaten berkat kesigapanku. Di kabupaten, anggota yang terpilih dari berbagai sekolah di seleksi lagi untuk menjadi Paskibra resmi di Kabupaten dan yang terbaik akan dikirim ke tingkat provinsi. Sayang, aku gugur dalam pemilihan di tingkat provinsi, dan aku hanya menjalani sebagai Paskibra Kabupaten Tapin.

Tapi selang satu malam, aku mendapat telepon dari pembimbing Paskibra, bapa Reza, bahwa aku dimasukkan ke Paskibra tingkat provinsi. Masa-masa karantina selama 4 hari di MAN 2 Model Banjarmasin, membawa kegembiraan tersendiri bagiku. Kebersamaan yang terjalin hingga membuat kami semua seperti sudah menjadi saudara, walaupun kami cuma beberapa hari disana. Aku gagal. Aku sadar, mungkin hanya karena aku Paskibra panggilan, sehingga aku tidak diterima disana. Walaupun begitu, aku tetap semangat, aku masih diterima sebagai anggota Paskibra di kabupaten.

Di semester 2, grafik nilai-nilaiku sedikit meningkat. Nilai akhirku di atas KKM semua dan akhirnya aku masuk ke jurusan yang aku inginkan. IPA 1, itulah kelasku. Dan lagi-lagi, kaka sepupuku kembali menjadi wali kelasku tahun ini. Di kelas ini, serasa berbeda sekali. Mungkin karena pelajaran-pelajaran IPA yang memusingkan kepala. Tapi, untungnya di semester pertama aku masuk dalam urutan ke 9 dari 10 besar. Hasil yang cukup memuaskan, karena di kelas X aku belum beruntung memasuki 10 besar. Di kelas ini, siswa laki-lakinya cuma 8 orang. Sedikit memang, karena kami berdelapan memang siswa pilihan untuk bisa masuk di kelas ini.

Di kelas XI ini juga, persahabatan-persahabatan semakin terjalin erat. Aku dan teman-temanku di kelas IPA lainnya membentuk sebuah perkumpulan persahabatan, sebut saja DancoBroders. Awalnya kami hanya iseng menggunakan kata Danco, yang dalam bahasa Jawa berarti bodoh. Mungkin itu cocok dengan kelakuan-kelakuan kami yang bodoh dan konyol.
                                         


DancoBroders awalnya terbentuk berkat kebersamaan yang dijalin karena persamaan pergaulan dalam sekolah. Nongkrong sepulang sekolah yang diselingi oleh canda dan tawa, meskipun ada kontaminasi antara sifat alami kami satu sama lain. Kami juga mempunyai markas tersendiri, yaitu di rumahku. Kami menyebutnya Danco Camp. Tiap hari rumahku pasti tidak pernah sepi, lantaran teman-temanku selalu datang untuk nongkrong disana. Kerjaan kami tiap hari keluyuran tidak keruan entah kemana. Dan setiap momen tersebut, selalu kami abadikan dengan sebuah foto.

Dan inilah galeri Danco, foto dari berbagai tempat yang kami kunjungi:


Mungkin karena terlalu asik berteman hingga lupa belajar, membuat nilai akhirku di semester kedua sedikit mengecewakan. Aku gagal masuk 10 besar, dan peringkatku menurun ke peringkat 12.

Di tahun ini, tahun terakhir aku mengikuti Paskibra untuk yang kedua kalinya. Kali ini aku dipercaya untuk menjadi pasukan utama, pasukan 9 pada sore hari. Aku bertugas menurunkan sang bendera merah putih. Suatu kebanggaan yang amat sangat bagiku. Karena pada tahun kemarin, aku belum bisa dipilih untuk mendapatkan kesempatan yang sangat berharga ini.



Hari demi hari latihan. Semua itu ku lakukan dengan semangat merah putih walupun saat berpuasa, untuk memantapkan gerakan saat aku maju menjadi pasukan 9.


Pada pagi hari, aku tetap bertugas untuk pengibaran sang merah putih walaupun hanya berada di pasukan depan.

Hingga detik-detik untuk penurunan bendera putih, aku siap meluncurkan semangat garudaku. Dengan rasa nasionalisme yang tinggi, derap langkah demi langkah ku ayunkan dengan mantap. 
                                                     


Hatiku berdebar-debar saat berdiri di depan, menghadapi wakil bupati Tapin, para pejabat, veteran, dan ibu-ibu PKK. Aku berusaha tetap tenang, dan akhirnya sang merah putih sudah ku raih, kulipat dengan sigap, dan kuserahkan pada pembawa baki untuk disimpan oleh Pa Ahmad Fauzi, wakil bupati Tapin.


Aku dinilai para pelatih dengan satu kata yang masih mengiang di telingaku, “sempurna”. Perasaan bahagia terpancar di wajahku. Dan pada saat momen-momen terakhir itu, aku menyempatkan berfoto sepuasnya dengan para pelatih, pembimbing serta teman-temanku selama menjadi anggota Paskibra. Senang bercampur rasa haru, mungkin itu yang kurasakan saat itu. Karena pada tahun-tahun yang akan mendatang, aku tidak bisa lagi bertugas sebagai anggota Paskibra pada 17 Agustus.

Akhirnya, tak terasa aku sudah menduduki kelas XII. Tahun terakhir aku berstatus pelajar SMA. Keberhasilan yang akan ditentukan oleh ujian nasional. 







Share:

0 komentar: