Tampilkan postingan dengan label lagi labil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lagi labil. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Desember 2025

Starting Again.. and Again..

Terakhir kali gue nulis di blog ini pertengahan tahun 2021 yah kalo gasalah. Rasanya itu lamaaaaaa bener, sampe-sampe pas iseng buka dashboard blogger barusan, gue cuma bisa mikir: 

"Ini apaaa? Situs apa ini?? Siapa yang bikin???"

Padahal ya... gue sendiri.

Aneh juga rasanya.. Dulu nulis itu rutinitas buat gue, kadang di kertas yang lagi gue pegang, di notes hape, atau bahkan langsung di blog ini.. tapi sekarang malah kerasa kek ketemu temen lama yang udah bertahun-tahun gak ngobrol.

Gue gapunya tujuan besar buat postingan pertama ini, setelah hibernasi yang lumayan lama. Gaada wacana mau bikin tulisan panjang, gaada konsep berat. Gue cuma pengen coba mulai lagi--pelan-pelan, seperlunya, senyamannya.

Banyak banget hal yang berubah sejak 2021: kerjaan, cara mikir, realita hidup, benturan emosional, dan bahkan hal-hal kecil kek kebiasaan ngopi setiap harinya yang selalu bikin gue jadi Batman. Susah tidur, alias jadi kalong. Tapi teteepp aja gue lakuin.

Ada cerita yang pengen ditulis, ada juga yang pengen disimpen sendiri. Yang jelas, gue kangen nulis. Menumpahkan perasaan yang gabisa diucapkan.

So, yaudaahh.. Ini langkah pertama gue. Gak muluk-muluk. Yang penting mulai aja lah...

Well,

Halo lagi, Blog!

Share:

Sabtu, 19 Agustus 2017

Mengenai Perasaan (1)

Jujur saja.

Membuka hati yang pernah hancur itu seperti membuka pintu yang engselnya rusak. Susah untuk diperbaiki, kecuali diganti dengan engsel yang baru.

Masih teringat, ketika pintu masih bisa terbuka dan gue menyilakan seseorang untuk masuk ke dalam hidup gue. Di saat itu gue bener-bener merasa seperti anak kecil yang dikasih mainan. Sangat bahagia sekali.

Beberapa waktu yang gue jalani bersamanya memang tidak lama. Bukan karena gue tidak berusaha. Tetapi, ya, gue memang bodoh. Kenapa tidak bisa memperjuangkan orang yang memang tidak mereka sukai. Bukannya tetap mempertahankan perasaan di ujung tombak yang runcing, gue malah menjatuhkan diri sendiri. Menjauh. Menghindar.

Berharap gue tidak memberikan hati yang lebih dan mencoba agar dia bisa melupakan gue secara perlahan.

Semua itu tidak bisa gue pungkiri, setelah gue terjun ke dalam dunia yang sesungguhnya, kita tetap dipertemukan kembali. Dan sekarang kita seperti dua orang asing yang baru berkenalan. Mengeluarkan kata-kata yang dulu sangat mudah untuk dicerna kita berdua, sekarang seakan itu adalah hal yang sangat sangat haram untuk diucapkan. Gue tidak seperti orang lain yang mudah melupakan seseorang maupun kenangan-kenangannya. Tapi gue adalah orang yang berusaha untuk melupakan.

Entah benar atau tidak, yang gue denger dari adek sendiri, masih ada sedikit rasa perhatian yang muncul. Atau mungkin saja kamu memang cuma sekedar ingin bertanya. Gue tidak tau. Yang jelas, gue mendengar hal itu sempat membuat gue bimbang untuk memulai lagi.

Memulai lagi? Setelah berkali-kali?

Mungkin tidak akan terjadi.
Tapi entahlah, gue sangat bimbang sekarang.

Gue tau persis bagaimana rasanya dikecewakan. Dan itu sakit banget. Bukan cuma sekali kamu dikecewakan, tapi sudah yang kedua kalinya. Gue tau itu sangat berat dan rasa sakit yang dirasakan mungkin masih membekas sampai saat ini. Bahkan mungkin ada selintas pikiran bahwa: "ah, ngapain aku berusaha lagi? toh nantinya aku bakal dikecewain lagi. ini tidak akan terulang untuk yang ketiga kalinya"

Penyesalan itu memang datang di akhir sebuah kisah. Dan itu memang benar adanya. Gue tidak tau bagaimana menghadapi hari ke depan di saat kita berjumpa kembali. Rasa ingin memiliki itu masih ada dalam hasrat di dalam diri gue. Tapi setelah semua yang terjadi... aahhh...

Untuk hati yang pernah dikecewakan, gue minta maaf. Bukan salah kalian atau keadaan yang tidak merestui, melainkan karena kebodohan dan keegoisan diri gue sendiri.

Jujur, gue ingin memutarbalikkan waktu dan memperbaiki kesalahan-kesalahan gue di masa lalu.

Karena sampai sekarang,
gue masih dibayangi oleh begitu banyak rasa penyesalan,
dan mungkin,
kita tidak bisa berbahagia seperti dulu lagi.

mayoritas
Share:

Minggu, 18 Juni 2017

No (Girl)Friend, No Trouble!

Apa sih arti teman menurut pandangan kalian?

Gue sih simpel: orang yang selalu ngerti keadaan kita dan orang selalu ada buat kita. Jadi gak ada batasan, entah itu harus cewe, cowo atau seorang gay sekalipun.

Semenjak satu tahun berjalan ini, gue udah nyaman dengan berteman, dengan siapa saja. Gak ada yang ngelarang gue. Gak ada orang yang harus membatasi gue buat ngelakuin hal apapun. Enak aja gitu, bisa kenal dan dekat sama siapa aja. Gue kumpul-kumpul sama temen gue gak harus takut tuh ada yang bakal cemburu ato negatip tingking sama gue. Jempol kebawah kalo ada orang seperti itu.

Tapi yang gue rasain belakangan ini, gue berteman seakan memberi suatu harapan untuk beberapa orang. Gue gak ada maksud untuk mencari pacar dengan sok-sok akrab dengan orang. Nggak! Nyatanya sekarang, orang lain malah menganggap gue 'berbeda' di hati mereka.

Oke, sekarang gue tanya. Apakah
Share:

Senin, 01 Agustus 2016

Bipolar

Saat ini gue bener-bener gak bisa konsen buat nulis apa-apa.
Bener-bener gak bisa dapet mood yang enak.
Ketika mau nulis sesuatu, I'm totally blinded. Isi kepala gue seakan tersumbat oleh sesuatu yang gak bisa gue lihat sendiri.
Perasaan gue kacau.

Sudah kesekian kalinya, dan malam ini, gue berusaha duduk tenang di depan meja, mencoba untuk menumpahkan semuanya lewat tulisan.
Beberapa hari yang lalu, gue pengen banget nulis sesuatu. Saking antusiasnya, gue sampai membawa laptop ke rumah temen, berharap disana gue bisa dapet inspirasi. Ketika disana, kepala gue malah tiba-tiba puyeng. Kemarennya lagi, ketika dalam perjalanan pulang dari Banjarmasin, gue mencoba memejamkan mata sejenak di kursi belakang, berusaha mengingat hal-hal yang pernah gue lewati, dan menuliskan beberapa kata. Hasilnya, cuma kalimat-kalimat absurd tanpa makna. Intinya, dari sekian banyak masalah yang ada, gue gak bisa ceritakan semua.

Beberapa minggu ini pun pola tidur gue berubah drastis.
Gue hidup bagaikan kelelawar, bangun di malam hari dan tidur di siang hari.
Gue gak bisa tidur walaupun mata gue udah minta istirahat. Entah kenapa, tapi semuanya terasa aneh, ada perasaan dan pikiran yang tak biasa. Kadang, jam 3 pagi baru gue bisa tidur pulas. Akibatnya keesokan hari badan gue lemes. Bangun tidur pun ketika hampir azan zuhur berkumandang. Gue keluar kamar hanya untuk mandi dan makan. Abis itu gue nyambung tidur lagi hingga sore.

Keadaan kayak gini bener-bener bikin gue stres.

Hal ini membuat gue jadi berpikir satu hal:
apakah memang benar ini yang dinamakan manic depressive?
sebuah ketidaknyamanan bisa membuat perubahan buruk dalam hidup seseorang?

PS: besok lusa gue bakalan pergi sejenak, melakukan ekspedisi seorang diri, selama 4 hari...
mungkin gue sangat butuh liburan. tebak mau kemana...
Share:

Jumat, 25 Maret 2016

masalah yang belum terselesaikan

Gue sering ngerasa addict dengan orang yang gue sayang, kangen banget kalau gak ketemu dan bisa sama-sama untuk waktu yang cukup lama. Ngerasa sayang, sampai-sampai kalau ada orang yang ganggu-gangguin dia gue bakalan dengan galak teriak "Engga boleh! Mau apa kau gangguin dia?!". Perjalanan panjang dan pengorbanan lebih untuk menjalin hubungan, setelah dipikir-pikir, udah lebih dari cukup untuk merasakan sebuah kenyamanan dengan pasangan kita masing-masing.

Namun, menjalin hubungan dengan orang yang berbeda prinsip dengan kita mempunyai satu kriteria khusus: sanggupkah kita, setelah membaca lembaran demi lembaran hidup masing-masing, mengenal diri masing-masing lebih dalam, tumbuh bareng, komitmen untuk bersama dalam hubungan yang lebih serius, dan pada akhirnya, dipertemukan dengan sebuah pilihan yang dilematik. Kita hanya bisa diam, gak tau apa yang harus dilakukan, karena tidak ada satupun yang bisa ditentang. Sanggupkah kita, berdua untuk bergandengan tangan saja dalam sebuah perbedaan? Sanggupkah kita, untuk sesaat saja berada dalam suasana sunyi yang penuh kenyamanan?

Sanggupkah?

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan jawaban simpel seperti: "Kalau emang gak bisa dan gak mampu, jangan dipaksakan, cari aja yang baru, mungkin dia belum jodohmu". Well, tapi untuk direnungkan, dan dipikirkan, "Bukankah perbedaan itu diciptakan untuk dipersatukan?"

Dan pada akhirnya, kita hanya bisa berkata, "Oh, bagaimana kalau kita tulis dan ukir kisah kita berdua sendiri. Cerita dari hasil pemahaman kita atas diri masing-masing, dan ekspetasi apa yang mungkin nanti terjadi".
Share:

Selasa, 01 Maret 2016

Dan Di Saat Ini Gue Berpikir Atas Hal Yang Tidak Jelas

Sekarang, kita ngobrolin apa ya?

Hmmmmmmmm, banyak...

tapi gue gak tau harus mulai dari mana.

Kadang ada banyak yang ada di kepala gue, tapi gue gak tau gimana cara menuliskannya, karena... well, saking banyaknya. Saking pusingnya. Something happened and I have been thinking heavily ever since. Gue coba tarik napas dalem-dalem, dan coba gue urain satu persatu apa yang bersliweran di kepala gue saat ini, gue coba biarin jari gue gerak sendiri, menyampaikan apa yang ada di kepala.

Here goes:

1. Gue gak pernah ngerti sama diri gue sendiri kenapa terkadang sebuah hal yang (kayaknya) kecil bisa begitu jadi besar buat gue. Bisa ngebuat gue marah, kecewa, dan gue gak pernah ngerti kenapa semua hal ini bisa berubah seperti kanker yang menyebar dan menggerogoti perasaan gue sendiri... lama-lama ngebunuh dari dalam... dan mati. Gue gak pernah mengerti bagaimana harus mensiasati ini. Gue gak pernah ngerti, kenapa, perasaan gak enak selalu menghantui pikiran gue. Kenapa? Kenapa gue gak bisa membuat semua ini seolah gak nampak, dan jalan terus. Kenapa? Kenapa? Kenapa gue harus membuat semua hal bisa seperti apa yang gue inginkan? Kenapa gue harus melakukan hal yang demikian sementara gue gak memperdulikan perasaan orang lain? Apakah gue seegois itu? Mungkin ini kutukan sekaligus berkah menjadi seorang posesif, perfeksionis... atau menjadi orang yang tak pernah puas?

2. Gue sangat kagum bagaimana sebuah kejadian bisa terjadi. Katakanlah begini, jika seseorang menikah karena kenalan di facebook, bagaimana jika facebook tidak diciptakan? Bagaimana jika komputer tidak diciptakan? Mereka mungkin akan menikah dengan orang lain, dan cerita hidup mereka akan completely berbeda, anak-anak yang berbeda, nasib yang berbeda. Setiap elemen-elemen dalam semesta ini mempertemukan kita ke jalan yang kita ambil. Apa ini semua sudah diatur, atau kita membuat ilusi bahwa sesungguhnya kita bisa mengatur ini? Apakah, perpisahan juga sudah diatur rapi? Ya, itu pertanyaannya, jika pertemuan seseorang direncanakan oleh "nasib", apakah perpisahan juga seperti itu? Dan jika iya, siapa yang bisa disalahkan?

3. Bagaimana kita tahu apa yang kita pilih itu "benar"? Bagaimana kita tahu apakah kita akan bahagia dengan pilihan kita. Aksi kita. Konsekuensi kita. Apakah dengan segala perjuangan dan pengorbanan yang sudah sekian lama dilalui mampu membuat semua hal itu menjadi sesuatu yang tidak sia-sia?

4. Siapa bilang takdir tidak dapat diubah? Kalau memang takdir tidak bisa diubah, buat apa Allah memerintahkan kita untuk berdoa dan berusaha? Lebih jauh dari itu, siapa pula yang memberi tahu kepada kita bahwa takdir kita akan begini atau begitu? Lalu atas asumsi itu, kita diam saja tidak bekerja atau berusaha, karena beranggapan semua sudah pasti sudah ditentukan oleh-Nya.

5. Belakangan ini, gue tertarik dengan buku 2 States, Ta'aruf, Kupas Tuntas ****, dan Menjadi Laki-Laki. Tetapi, buku-buku itu juga yang sebenarnya pengen gue hindari. Jangan tanya kenapa.

6. Apabila gue udah menemukan tempat yang nyaman, gue gak mau nyari dan pindah ke tempat yang lain lagi. Karena belum tentu tempat yang lain sama, atau senyaman yang sekarang. Begitu pula dengan cinta. Apabila gue udah nyaman dengan satu orang, gue gak mau nyari yang lain lagi. Walaupun itu bagus, menurut sebagian orang. Karena belum tentu orang itu nyaman buat gue.

7. Sebisa mungkin gue terbuka dengan orang gue percayai. Dan sebisa mungkin juga, gue membuka semua kekurangan gue kepada orang yang gue sayangi.

8. Hari ini gue baru menyelesaikan ujian tengah semester hari pertama. Dan tanggal 5 Maret nanti gue bakal pergi praktek lapangan yang ke-3 di Kota Bagansiapiapi.

9. Nulis postingan ini lampu kamar gue udah mati, dan gue sendirian dalam keheningan bersama tulisan gue. Entah perasaan apa lagi yang berada di benak gue malam ini.

10. Gue lagi nunggu kabar dari seseorang.

?##@!!%?

Gue nulis apa sih? Buset, gue bahkan gak tau gue nulis apa.

Persetan.
Mohon maaf telah menyampah.

Be right back. Lagi perlu mikir.
Share:

Minggu, 26 April 2015

Selasa, 07 April 2015

Sabtu, 04 April 2015

Post After Brokenheart

Terkadang,
patah hati bisa membuat seseorang susah tidur.

Tengah malam kemaren, gue baru ngalamin patah hati. Gue baru saja berpisah dengan hati yang sudah menemani gue selama 5 bulan. Tepat hari ini, tanggal 4 dini hari, sebenarnya adalah tanggal kebahagiaan kita berdua. Akan tetapi hari ini, tanggal itu telah menjadi tanggal terakhir kita.

Sambil menulis ini, gue mendengarkan lagunya Rick Price yang berjudul Heaven Knows. Gak tau kenapa, nulis sambil mendengarkan lagu tersebut ngebuat gue ngerasa sedih, melancholic, dan ada hasrat untuk nulis sesuatu. Ada banyak perasaan yang pengen gue keluarin, gue pengen cerita, yang tidak bisa gue definisikan perasaan seperti apa itu.

Di tengah perasaan yang campur aduk, gue mulai menulis. Huruf demi huruf, merangkai kalimat menjadi paragraf, dan tanpa gue sadari, gue larut dalam kata-kata. Lalu gue menyenderkan badan ke kursi. Gue buka lagi received call dan sms dia malam itu,. Gue terdiam, meresapi dan mencoba memahami apa maksud dari sms itu. Gue baca ulang, rasa sedih yang amat sangat menggelayuti pikiran dan perasaan gue. Gue begitu rapuh.

Gue menulis, menulis, dan menulis. Sampai capek menulis, gue ngeliat ke langit-langit kamar... merenung sendirian. Disinilah gue: jutaan kilometer dari rumah, menulis tentang seseorang yang baru saja pergi. Seseorang yang telah membuat hati gue dipecahkan menjadi ribuan serpihan kecil, yang lalu coba gue kumpulkan kembali. Yang gue coba, perlahan-lahan, bentuk kembali...untuk menata kembali hati gue yang telah hancur.

Gue melihat jam, sudah jam dua pagi. Lalu gue mencoba untuk melupakan semua tentang hal itu, tapi tetap, gue tidak bisa. Tidak berapa lama, gue membuang waktu dengan mengedip, mencoba untuk tidak berpikir apa-apa. Gue menaruh handphone, lalu dengan malas tiduran di atas tempat tidur.

Sepuluh, dua puluh menit,
waktu berlalu,
gue masih gak bisa tidur.

Mungkin memang benar.
Terkadang, patah hati bisa membuat seseorang susah tidur.
Share:

Jumat, 03 April 2015

H O M E

Kutembus waktu penghalang jarak antara aku dan kau serta ruangan bertatap muka
Dimana dimensi raga dan jiwa sebarkan aroma positif dari rasa ke rasa
Lalu melepas cinta dengan sentuhan akhir
Ku pulang kembali walau detik terakhir
Ku tulis perih dan luka layak Neruda
Kau rekam suka cita di dalam dada

Masih jadi diri sendiri yang berjuang
Jalan panjang berliku aku harus tetap tenang
Ukur kemampuan jalani proses panjang
Saat menuju rumah aku kan tersenyum lapang
Menjemput impian tinggi di dalam kamar
Sketsa mimpi masa lalu kian berakar
I was stuck, and I'll keep on dreaming
The place I started, I'm going home...

Tetap ambisionis mencari arah tujuan hidup
Meski ironis langkah tegap takkan bungkuk
Melesat kencang dari pistol berpelatuk
Menuju titik akhir sebagai petunjuk
Kuharap cinta akan mengawalku pulang
Pada rangkulan rembulan dan bintang
Dimanakah akhir dari perjalanan panjang?
Kapankah waktu "Selamat Datang"?

Memang,
lebih nyaman berada di rumah sendiri.
Share:

Senin, 17 November 2014

"Underground Message"

03/09/2014
14:04

notice:
nyambung dengan postingan 14/11/2014

Don't convince yourself
that she likes you
just because she's being nice to you.
Sometimes, you're just "a choice"
when she's bored...

Paham lah pian..?
Nah, amun yang ini pang paham lah..?

Jangan meyakinkan diri
bahwa dia menyukaimu
hanya karena dia bersikap manis padamu.
Terkadang, kamu hanya "sebuah pilihan"
ketika dia bosan...

Inilah alasan aku menjauh darimu
Share:

Jumat, 14 November 2014

Selasa, 16 September 2014

Melancholic Film

30/07/2014
01:07

Backsound: Bondan Prakoso & Fade2Black - Home

Tengah malam.

Waktu dimana umat manusia sudah tertidur lelap. Tiada satupun manusia yang beraktivitas. Yang terdengar hanya suara nyanyian jangkrik di tengah gelapnya malam.

Berbeda dengan di sebuah rumah. Di sebuah kamar yang kecil masih terdengar alunan lagu 'kelam'. Dimana seorang manusia masih sibuk berada di depan laptopnya. Kamar yang kecil itu masih berisi dengan kehidupan. Kamar gue...

Gue baru saja abis kelar nonton film nostalgila gue zaman dulu. Film yang gue beri judul 3 Hati. Gue menemukan kotak dvd film itu tersimpan rapi di dalam laci meja belajar. Selama hampir satu tahun gue engga nonton film ini. Bahkan aroma piringan dvd itu masih tercium baru.

Seperti ada sebuah flashback ketika gue nonton film itu. Gue masih inget, temen-temen gue bikin heboh rumah gue tiap harinya. Gue masih inget Om Budi, sutradara dan kameramen, berteriak 'cut..cut' tiap kali men-shoot adegan. Gue juga masih inget, kalo gue sempet suka sama temen gue sendiri.

Kini, kami semua sudah terpisah. Hanya beberapa orang yang tetep tinggal berdekatan sama-sama. Gue, sekarang menjalani pendidikan di IPDN, sebuah institut kepamongprajaan di Bandung. Temen gue, Faisal, sekarang sudah menjadi seorang polisi. Dan sekarang dia sudah bekerja. Temen-temen gue yang lain, ada yang masih kuliah di berbagai universitas negeri maupun universitas swasta. Waktu gue nonton film tadi, gue sempet berpikir, betapa mudahnya waktu berjalan dengan begitu cepat. Baru serasa kemaren kami main, ngumpul, dan bikin film ini sama-sama. Waktu serasa berjalan begitu cepat membuat kami yang dulunya belajar, bermain dan berjuang sama-sama di SMA, sekarang sudah berada di jalan hidupnya masing-masing.

Gue jadi kangen masa putih abu-abu dulu. Gue pengen flashback ke masa lalu, walau hanya sebentar saja. Gue pengen lebih menghargai waktu yang sangat berharga dulunya.

Kini, kotak film itu gue taruh kembali di laci meja belajar. Gue taruh kembali, menunggu..entah, kapan suatu saat nanti akan dibuka kembali.

Sekian.
Share:

Selasa, 03 Juni 2014

Wordsick

Gue termasuk tipe cowo gampangan.
Gampangan galau, gampangan labil, dan gampangan kentut diem-diem.

Gue adalah tipe orang yang apabila ditegur:
'Kamu kenapa bay jadi murung gitu?'

Dan gue adalah orang yang selalu menjawab:
'Ah, engga papa kok.'

Engga terlalu banyak omong itu adalah diri gue selama ini. Apabila ada orang atau temen yang nanya keadaan gue, gue pasti hanya akan diam dan berkata: baik-baik saja. Sama halnya apabila gue suka sama seseorang, gue lebih cenderung diam dan hanya bisa diam. That's all.

Walaupun kerap kali temen gue nanya yang mana cewe yang lo taksir, gue cukup berkata: ada deh... Well, cemen banget kan. Gue tergolong spesies cowo yang penakut. Gue takut bilang langsung, gue takut jujur apabila itu menyakiti perasaan orang lain, dan gue takut apabila ditagih hutang sama temen. Huh.

Biarpun begitu, gue selalu berpegang teguh pada pendirian gue. Apabila gue udah punya perasaan yang lebih, gue selalu akan berusaha mencari tau tentang apa yang gue mau itu. Gue rela mencari tau kesana kemari hingga berbagai pertanyaan dan rasa penasaran gue itu terobati. Gue suka sama seseorang, gue akan mencari tau lebih dalam tentang dia, tentunya tanpa menanyakan langsung. Karna apa? Ya, gue spesies yang penakut.

Seperti yang gue alamin belakangan ini, gue seperti seorang polisi. Menciduk orang, dan menginterogasinya sambil bertanya-tanya tentang hal itu. Gue tanya ke temen gue, gue tanya ke temennya temen gue, gue tanya ke temen dari temennya temen gue, dan begitu terus. Tiap kali posisi kita berdekatan, yang gue lakuin hanya berdiri siap sambil melakukan penghormatan militer. Intinya, gue mati gaya. Hanya itu yang bisa gue lakuin. Seperti yang kalian udah tau, gue adalah tipe cowo yang hanya bisa diam sambil memendam sejuta kebahagiaan yang dihiasi rona-rona asmara. Hueeeekk....

Oke, demikian basa-basi malam ini. Gue nulis ini lantaran stres sibuk mikirin tugas hukuman dari dosen yang naudzubilah sangat tidak berprikeprajaan.

Sekian dulu dari gue, tolong beliin gue nasi goreng dan milk cookies malam ini.
Gue laper.
Maaf apabila gue bikin engga enak hati.

Selamat malam :)
Share:

Kamis, 15 Mei 2014

Nonton MMJ

Gue masih inget betul salah satu sms temen gue di luar sana, tanggal 11 kemaren Raditya Dika bakal ngadain meet and greet di Bandung.

Well, gue berharap hari itu gue dapet pesiar, biar gue bisa ketemu sama idola dunia akhirat gue itu.

Gue pernah kecewa berat karna engga sempat ketemu Radit waktu di Solo kemaren, padahal gue udah jauh-jauh hari beli tiket sama temen-temen. Eh tau-taunya... Huft, ya sudahlah...

Tanggal 11 itu juga, gue gagal lagi ketemu sama pujaan gue. Ya, gue engga dapet pesiar. Di hari itu gue hanya sibuk bikin stan buat IPDN Expo sama sokon-sokon gue dengan pikiran melayang jauh ke jiwa Radit. Oh, Raditku....

Gue pengen banget nonton film barunya dia, Marmut Merah Jambu. Dari trailernya aja, gue bisa mengaumsikan ini film pasti bisa lebih kocak lagi.

Apabila gue dapet pesiar gue pengen nekat pergi nonton, entah jam berapa gue engga peduli. Mau gue telat masuk kampus kek, gue engga peduli. Yang penting gue bisa nonton dan liat dia main di film itu. Gue emang nge-fans banget sama dia.

Pesiar hari kemaren pun akhirnya gue manfaatin sebaik-baiknya buat nyempetin nonton Marmut Merah Jambu. Gue keluar kampus agak telat karena sesuatu hal, gue langsung buru-buru pergi buat beli tiketnya.

Yup, akhirnya gue dapet tiket nonton jam 5 sore.

Eniwei, gue nonton sendirian aja. Ya, karena gue telat keluar kampus dan temen-temen gue udah menghilang entah kemana.

Gue duduk sendirian, sementara di samping gue ada pasangan mesra sedang nonton bareng. Gue seakan dikucilkan duduk sendirian, sementara mereka berdua asik-asiknya tertawa bersama.

Sementara gue, gue hanya bisa tertawa sendiri kaya orang gila.

Yah setidaknya...
Gue bisa nulusin hati gue buat liat Radit, walaupun engga bertatap muka.
Share:

Senin, 31 Maret 2014

A Notes on Highway...

Sebuah perjalanan membuat pikiran gue tertuang dalam sebuah tulisan.

Tulisan yang sebenernya engga begitu penting buat dibaca.

Gue baru pulang dari suatu tempat. Suatu tempat yang udah bisa membuat gue merasa bebas untuk sesaat. Suatu tempat dimana gue pergi bersama temen-temen yang baru gue kenal.

Sebelum itu gue hanya bengong sendiri, memikirkan kemana tujuan gue untuk pergi. Pakaian yang dikenakan sudah rapi, dompet sudah terisi tebal, muka udah ganteng, tapi tetap.. gue tidak mempunyai tujuan.

Setelah melihat travel yang lewat, gue nekat pergi. Entah kemana travel itu membawa gue pergi, gue tidak terlalu peduli. Di persimpangan, masuklah dua orang remaja duduk di samping gue. Pakaian yang mereka kenakan sama persis dengan gue, pakaian dinas. Sama. Mereka juga tidak punya tujuan yang pasti.

Kami bertiga pun pergi layaknya pemain Para Pencari Tuhan di tipi-tipi itu, berkeliling tanpa arah dan tujuan. Sebuah papan jalan menujukkan bahwa kami berada di sebuah kota di Jawa Barat. Disana, kami di drop oleh supir dan sisanya kami berjalan kaki menyusuri setiap kerumunan orang yang lewat.

Gue seakan merasa seperti berada di kota halaman sendiri. Gue bisa makan dengan sesuka hati, belanja dengan sesuka hati, dan tentunya bisa merasakan semua kebebasan ini dengan suka hati. Ah, lupakan sajalah.

Kami bertiga pergi hanya sekitar 3 jam. Karena waktu itu sudah menunjukkan pukul 6 sore, dan gue harus segera kembali ke habitat asli gue.

Dalam perjalanan pulang...

Ya, hujan menemani perjalanan gue.

Sebuah momen yang selalu bikin gue merasa lebih deket dengan kedamaian.

Gue terdiam dalam sunyi.

Temen disamping gue yang tadi ngajak ngobrol tidak taunya sudah terlelap memejamkan mata. Entah kenapa walaupun mata gue terkantuk-kantuk, gue tetep tidak bisa menutup mata. Gue masih menikmati indahnya perjalanan menuju pulang.

Diantara hujan yang turun, gue menuliskan catatan singkat ini. Diantara kesunyian ini, gue menerawang jauh ke luar jendela, pandangan gue menembus titik-titik air yang membasahi kaca. Jalanan yang mulus, wiper mobil yang bergerak naik turun, suara serak dari radio mobil membuat suasana ini semakin membawa gue ke alam yang lain.

Andaikan gue bisa merasakan suasana seperti ini sedikit lebih lama...
Share:

Kamis, 27 Maret 2014

Siap, salah!

Hidup di lembaga pendidikan seperti gue sekarang ini selalu dihantui oleh yang namanya senior. Tapi engga semua senior itu 'jahat', 'berhati setan', 'berhati batu', atau sebagainya, banyak juga senior-senior yang baik dan ramah hati.

Hukum senior-junior itu masih ada, tapi sekarang udah engga separah zaman dulu. Hubungan senior-junior sekarang udah berubah menjadi hubungan kakak-adik. Kekerasan juga udah hampir sirna, dan gue bisa merasakan damainya hidup sebagai praja.

Masa-masa Muda Praja seperti gue sekarang ini disebut sebagai masa penanaman. Dimana pada masa ini, para praja tingkat bawah dibina dan diberi arahan untuk menanamkan perilaku, sikap, mental, dan moral sebagai seorang praja yang baik. Wajar jika kita, seorang praja, pas berbuat salah diberi hukuman atau tindakan.

Selama ini gue ngerasa, gue engga pernah melanggar pelanggaran berat deh. Gue engga pernah merokok, gue engga pernah berjudi, gue engga pernah mabok...tapi gue pernah sih sekali mabok...mabok cintrot.

Iya, bicara masalah cinta lagi. Kalo kita mau dengan urusan cinta-mencinta di lembaga pendidikan seperti ini, lebih baik kalian balik kanan. Karna gue tau, disini soal yang kaya begituan adalah hukum haram bagi tiap-tiap kontingen.

Mungkin gue pernah ngelakuin hal yang salah yang berakibat pada hancurnya hati seorang perempuan. Mungkin juga gue pernah ngelakuin hal yang fatal karena tulisan gue sendiri.

Semua orang pasti mempunyai angan-angan atau akal pikirannya masing-masing. Kita belum tentu tau apa yang ada di pikiran orang itu dan menjabarkannya. Gue, dan tulisan gue ini, adalah hasil dari apa yang gue pikirkan dan gue tuangkan dalam kata-kata. Semua yang gue tulis adalah kenyataan dari apa yang gue rasakan. Dan perlu digarisbawahi, tulisan gue bukan untuk menghujat atau menyinggung perasaan orang lain sekalipun.

Gue sadar, mungkin dari sekian puluhan bahkan ratusan orang yang baca blog gue ada yang pernah merasa tersinggung, engga enak hati, atau bahkan cemburu. Gue tau itu, dan gue engga pernah bermaksud demikian.

Jadi tolong, dengan penuh rasa kasih sayang, gue mohon pengertiannya yang amat sangat. Jangan merasa tersinggung ataupun marah pada gue, karna gue hanya menuangkan apa yang ada di pikiran gue.

Kalaupun gue pernah terlanjur bikin kalian sakit hati, gue hanya bisa bilang: Siap, salah!

Tanpa banyak alasan, tanpa banyak basa-basi, dan tanpa banyak penjabaran.

Gue khilaf, dan seperti yang kalian tau:
I share what is on my mind :)

Salam galau,

BFA


Share:

Rabu, 26 Maret 2014

SU, BE, atau JO ?

Tulisan kali ini agak berbau sedikit diskriminatif. Jadi tolong yah kalo ada salah satu diantara kalian yang ngebaca blog ini harap dibaca dengan kepala dingin dan pengertian yang amat sangat. Jadi kalo ada dari kalian yang merasa tersinggung ato apa, mohon maaf yah... Ayem peri peri sori dori mori...

Sebelomnya beberapa hari ini gue ngerasa badan gue kok aneh ya. Pusing, lemes, pegel-pegel, tapi gue engga ngerti kenapa. Mungkin kecapean aja kali ya. Temen-temen gue juga bilang beberapa hari ini gue rada aneh..mungkin tambah cakep aja kali, hehe.. Tapi gue bingung kalo mau curhat masalah kesehatan gue sama temen-temen gue disini pake bahasa banjar. Jadinya mungkin kaya gini kali ya:

temen: 'kamu kenapa bay, kok lemes gitu?'
gue: 'ulun lagi gagaringan nah'
temen: 'hah? apa itu artinya?'
gue: 'saya lagi sakit nih'

Kalo gitu masih enak.

Tapi kalo misalkan ada orang bule ato pas orang Thailand yang kemaren nanyain keadaan gue:

dia: 'what's wrong with you? you look different today...'
gue: 'i don't know, i'm not feeling good today. i think i have not delicious body.'
dia: 'HUH??!! what the fuck is not delicious body??'
gue: 'yeah, i mean i think i just got enter wind.'

Buahahaha... dasar danco! Kasian banget yah, orang-orang Thailand engga tau penyakit masuk angin. Ah engga lepel nih...

Lanjut, seperti sekarang hujan kembali mengguyur wilayah Jatinangor dan sekitarnya. Niat gue mau berangkat kuliah batal. Padahal lagi rajin-rajinnya nih buat ke kelas. Soalnya di kelas udah ada yang menjadi motivasi gue.

Yah kalian pasti ngerti lah gue ngomongin apa.

Hujan-hujan kaya gini bikin diri gue tenang. Pikiran gue bisa rileks, dan terkadang gue dapet ilham buat nulis. Entah kenapa, gue terlena gitu aja ngedenger suara tetesan-tetesan air hujan menyentuh tanah. Because yeah, I love the rain.

Kemaren malam gue nelpon mama gue disela-sela kelas kerohanian. Gue cerita ke mama masalah sulitnya ngatur keuangan junior untuk senior, cerita ini cerita itu, dan akhirnya pembicaraan kami berujung pada sebuah pertanyaan dari mama gue:

'kayapa binian yang di Solo samalam tih?'
terjemahan: 'gimana cewe yang di Solo kemaren?'

Gue sempet terdiam untuk sesaat. Pertanyaan ini sangatlah sulit untuk dijawab. Bahkan anak-anak SD pun engga bisa menjawab pertanyaan itu.

Gue bingung kalo bicara masalah beginian. Karena apa, gue bingung hati gue ini mau gue taruh kepada siapa. Ceileh, gaya banget bahasa lu bay. Ehem maklum terbawa suasana.

Karena, yah...gue ada naruh perasaan sama temen di kelas gue. Udah lama, semenjak awal-awal masuk gue ngeliat dia tuh berasa ada yang beda. Serasa ada sesuatu dari dia yang membuat gue jadi on lagi. Orangnya juga gampang diajak ngobrol dan becandaan. Tapi sayang, dia dari kontingen yang berbeda. Ya itu lagi. Kontingen, kontingen dan kontingen. Semuanya dibatasi karena suatu hal yang bernama kontingen.

Kemaren-kemaren juga, sekitar hampir satu bulanan, gue dikenalin dengan seseorang oleh temen gue. Gue tuh sebenernya engga niat sih buat kenalan sama orang lain, karena yang gue tau yang gue alamin saat ini gue lagi engga mau ribet soal cewe. Tapi gue juga jenuh engga ada 'temen deket' yang bisa buat sharing dan cerita. Akhirnya gue mau aja dikenalin sama temen gue itu. Ya awalnya emang canggung sih buat ngontak dia. Mau gue kirim kaya 'eh kenalin..aku bayu cowo ganteng dari kalsel', yang ada gue nanti malah dibilang najis ama dia. Mau gue kirim 'kamu mau engga kawin sama aku?', gue takut malah digampar trus dibunuh hidup-hidup.

Gue pun ngirim chat pertama gue dengan hal yang realita:
'ini **** temennya si Fahmi ya?'

Yups, chat gue itu pun direspon dengan baik oleh dia. Chat itu berlanjut dan berlanjut hingga sekarang. Di tengah-tengah itu, gue sempet ragu sama dia: dia nya mau engga ya sama gue? Gue berniat mau ngajak ketemuan waktu gue dapet pesiar kemaren. Eh ternyata pesiar gue cuman dapet beberapa jam, engga memungkinkan buat gue pergi ketemuan sama dia.

Nyesek sih, tapi ya apa boleh buat.
Rencana blind date gue gagal total.

Si dia itu anak Serang, Banten, dan sekarang dia lagi menempuh pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung. Nah, jelas banget dia orang Sunda. Gue aja sempet bela-belain minta ajarin bahasa Sunda sama temen gue, biar nyambung ngomongnya. Hohoho...

Gue berharap nanti suatu saat gue punya waktu lebih buat bisa kenal dan ketemuan langsung sama dia. Biar gue bisa tau responnya dia pas ngeliat gue. Gue nyadar sih, gue ini engga ganteng-ganteng amat. Yah standar lah, muka minimalis. Gue ragu apa dia mau deket sama gue. Takutnya apa, gue takutnya pas dia ngeliat gue, dia langsung ngerespon dengan kalimat: 'anjrittt, ternyata kaya gini orangnya yang selama ini ngubungin gue!!"

Yeah..begitulah. Gue engga bisa terlalu banyak berharap lebih buat naruh hati pada kaum Hawa, untuk sekarang ini. Gue hanya bisa memandang dan menaruh perasaan yang tak bisa disampaikan dari sanubari gue.

Karena, ya,
gue hanya orang yang jatuh cinta diam-diam.
Share:

Senin, 10 Maret 2014

Planning Yang Gagal

Sialan!

Pesiar gue minggu ini gagal total. Rencana buat perawatan muka di luar sana gagal deh. Huhuh... (garuk-garuk tanah)

Sudah cukup kami para praja didera harapan palsu oleh lembaga. Beberapa minggu terakhir, ada rencana kalo kami semua bakalan dapat pesiar keluar kampus. Tapi apa coba, hingga saat ini gue hanya bisa duduk termenung galau menanti akan hadirnya pesiar yang sangat diharapkan itu.

Padahal gue udah ngerencanain pas pesiar nanti pengen ketemuan sama seseorang. Ciyee, udah dapet yang baru aja nih Bay... Ehem. Hehe, YA ENGGA LAH!

Dia itu cuman temennya temen gue yang punya temen juga. (???) Ah, bribet. Pokoknya intinya gitu deh.
Gue dikenalain sendiri sama temen gue itu, tanpa gue yang minta. Awalnya pas liat foto dia, gue cuman bilang: "Ah, biasaaaa..."

Tapi pas gue udah jalanin, dari awalnya yang hanya BBM an, ternyata cewe Universitas Pendidikan Indonesia ini cepet tanggapnya. Selang satu hari dia udah nanyain nomer hape gue. Bukannya sombong ni ye, tapi faktanya emang gitu. Bahkan dia dengan polosnya bilang pengen telponan denger suara gue. Alamaakk.. Gue engga terlalu suka sama cewe yang terlalu agresif -_-

Kenapa? Karna gue kalo suka sama cewe itu, simple kok.
Yang penting cakep.

Setiap kali gue ngomongin cinta, kita selalu identik dengan film AADC, Ada Apa Dengan Cewe. Cewe-cewe pengen cowo nya yang kaya Rangga. Kenapa sih? Pasti kalo ditanya jawabnya: "Abisnya kan dia puitis....seru beuuddd..."

Gue kasih tau ya kalo kalian semua kampret! Kalian suka cowo yang puitis? Yakin?? Sekarang kalian bayangin lagi makan di restoran. Suasananya romantis, candle light dinner gitu. Cowo kalian bilang gini:

"Sayang, ada sesuatu yang aku pinta. Bukan lada, bukan merica, bukan tomat, bukan kecap..."
"Apaan? GAREM??"
"Bukan garem juga"
"YA TERUS APAA???"
"Pecahkan saja gelasnya biar kamu tau"
"APAAN SIHH??!"

Ribet kalo punya cowo yang kek gitu!

Cewe-cewe suka yang puitis, cewe-cewe suka digombalin. Tapi apa kalian tau, kenapa kami para kaum cowo, udah jarang ngegombalin kalian lagi? Karna kalian itu engga asik!

Biar gue jelasin ya.

Cowo-cowo kalo misalkan gombal, sifatnya hiperbola kan. Ada malaikat yang jatuh, Tuhan yang nangis, hati berpindah tempat, ato apalah itu. Itu hiperbola, ya terima aja. Tapi kenapa kalian cewe-cewe selalu menerimanya dengan hal yang realita.

Pasti bilangnya: "Oh masa sih?" , "Oh gitu?"

Terima aja, ngapain ditanya-tanya lagi!
Gue pernah gombalin cewe gue, ups salah, mantan gue maksudnya.

"Sayang, nanti tolong anter aku ke rumah Dewi ya...abis itu jemput aku lagi"

Gue gombalin kan.

"Oh tenang bebeh... Jangankan aku anterin ke rumah Dewi, kamu mau dianter ke ujung lautan terdalam pun aku anter, mau kamu diatas gunung api yang meluap-luap berkobar-kobar pun aku jemput, karna aku sayang kamu"

Dan cewe gue kaya gimana coba?

"Oh gitu...eemm...trus kemarin kenapa ga dateng ke rumah?"
"Lah kan sudah aku bilang kemarin itu gerimis sayang...kamu ga ngerti...kenapa kamu ga ngerti sih sayang...."

*****

Eniwei, pas gue nulis ini ada seorang Muda lewat di depan gue. Saat itu gue lagi make baju hitam dan rambut panjang seperti senior tingkat II. Dengan muka takut, dia bilang ke gue:

"Izin ka... izin lewat ka..."

Hahaha, mampus lo!
Share:

Jumat, 07 Maret 2014

Semua Itu Ada Waktunya

Gue tertegun ketika membaca satu sms sahabat gue di luar sana.

Gue engga menyangka kalo gue udah 4 bulan lebih berpisah sama mereka. Dan saat ini, gue penasaran..apakah gue bakal bisa ketemu dengan mereka lagi.

Ah, terkadang gue suka bernostalgia sendiri kalo udah mengingat gue pernah kesasar di Fakultas Farmasi UMS dulu. Kadang gue masih suka membuka foto-foto lama yang tersimpan di laptop gue. Mulai dari gue masih memakai baju hitam putih seperti sales, sampai akhirnya gue bisa memakai jas praktikum yang putih suci itu.

Suatu waktu gue pernah bingung sendiri, kenapa bisa ya gue yang dulunya bertiti di ilmu kesehatan bisa nyemplung ke dunia pemerintahan kaya gini. Haha bego memang. Gue suka tertawa sendiri membayangkan kekonyolan gue itu. Dan tak jarang pula, hal itu membuat gue merenung labil.

Setiap seminggu sekali gue nelpon mama gue di daerah sana. Alhamdulillah, penggunaan hape buat gue saat ini sudah 'do what you will'. Semenjak hape gue dikembalikan oleh pengasuh karena kejadian kemarin, gue dengan leluasa bisa ngalay lagi. Gue kadang susah buat nelpon mama, karena gue mesti nyari waktu yang pas buat berkomunikasi. Disamping sinyal XL di wisma gue kaya banci. Sinyalnya kadang ilang sendiri.

Komunikasi gue kadang engga bisa lama dikarenakan jadwal gue disini sungguh menyiksa jiwa dan raga. Tiap pagi selasa sampai jumat selalu ada aerobik pagi, entah itu lari atau cuman sekedar senam tor-tor yang engga jelas. Pulangnya langsung stealing (baca: gerak cepat) buat persiapan upacara makan pagi. Iyah...gue juga bingung, makan aja harus diupacarain segala. Mungkin nanti juga bakal ada upacara mandi, upacara gosok gigi, atau upacara boker sekalian.

Kuliah disini pun beda dengan kuliah gue di universitas dulu. Awalnya gue suka ngantuk pas dosen ngejelasin, tapi gue ngerasa engga bisa terus-terusan molor trus kaya gini, gue berusaha nyari motivasi gue dalam belajar di kelas. And there is something that I thought could be my own, for a while. Ya cuma sekedar penyemangat biasa. Engga lebih. Gue juga engga mau nanti dibilang 'keluar kontingen'.

Sering gue mikir, kalo gini lebih enakan kuliah di luar. Bebas dari tekanan, bebas dari aturan apapun, kita mau kencing dimana kek engga ada yang larang. Kalo disini gue terkadang turun motivasi. Namun sang ibunda di luar sana, selalu menyemangati gue. Dalam hal apapun itu.

Kata mama, gue harus selalu sabar, istighfar dan selalu bersyukur. Apapun yang gue dapet disini, gue harus tetep bersabar. Segala sesuatu itu ada waktunya. Ada waktunya kita bisa merasa senang, ada waktunya kita bisa merasa bebas, dan ada waktunya kita bisa jadi senior.

Mungkin mama gue benar, semua itu ada waktunya. Ada kalanya gue merasa tertekan karena faktor senioritas disini, ada kalanya juga gue bisa merasa senang dan bahagia karena sesuatu hal.

Gue pengen cepet-cepet masa Muda Praja gue ini segera berakhir. Gue pengen cepet punya bintang melekat di dek gue. Gue pengen cepet-cepet jadi senior.

Dan sekali lagi,
seperti doktrin para senior bilang:

"Semua itu ada waktunya"
Share: