Jumat, 26 Februari 2016

Writing Mode: ON !

Man, ternyata nulis itu ngangenin.

Udah lama banget gue gak lama diem di depan laptop, ngetak-ngetik sambil ketawa sendiri bikin tulisan buat blog. Haaaaaaah. Selain itu, gue juga kangen banget dengan tulisan-tulisan gue dari awal gue nulis postingan di blog ini, gue baca berulang-ulang, dan gue bilang pada diri sendiri: "Gilaa, gue kangen banget nulis."

Minggu ini, entah kenapa, gue lagi semangat-semangatnya memulai nulis blog kembali. Kenapa gue bilang kembali? Karena beberapa bulan yang lalu gue sempet nulis di draft blog, terus laptop gue rusak, dan gue pun hampir beberapa bulan engga bersentuhan laptop bersama dengan draft tulisan gue. Cerita lengkap ada di sini. Sambel.

Seperti biasa, pas mau nulis blog, gue udah siap ngumpulin notes gue di hape yang selama ini gue kumpulin. Ato kalo engga, gue buka tulisan-tulisan di notepad laptop. Memang kebiasaan gue dari mulai punya blog (pas masih jadi cowok ABG kiyut berumur 17 tahun) adalah mencatat hal-hal lucu yang gue alamin di notes. Pas dilihat sekarang ternyata udah banyak banget.

Lalu, untuk mencari inspirasi, gue juga ubek-ubek buku catatan gue dan ngeliatin tulisan-tulisan yang pernah gue tulis. Gue juga liat kembali beberapa tulisan yang gak sengaja gue tulis sewaktu lagi bosen dengerin ceramah dosen di kelas.

Setelah gue baca-baca, gue nemuin tulisan tentang berbagai masalah-masalah yang gue alamin belakangan ini. Banyak banget hal-hal yang gak sempet gue ceritain. Hampir satu tahun. Dan itu membuat gue jadi bingung, dari mana gue harus memulai cerita ini kembali.

Seperti biasa, begitu gue mulai nulis, gue tiba-tiba berubah jadi orang yang suka menunda-nunda waktu. Sewaktu masih punya laptop kemaren, biasanya yang kejadian sama gue seperti ini: pas lagi santai gak ada kerjaan "Ah, nulis blog lagi ah!" tapi begitu mau nulis gue beralasan "Entar aja deh pas abis menza siang". Begitu udah menza siang, gue malah mikir "Entar ah, sore aja abis bangun tidur." Begitu selesai tidur siang, kegiatan padat dan gue beralasan "Nanggung, nulisnya malam nanti aja lah biar tenang." Sampe malam hari lebih parah, "Ah, cape banget apel malamnya lama banget yang ngambil Pak Rui". Alhasil? Gue langsung tidur. Ulangi terus tiap hari.

Kalo gak ada alasan, bukan gak mungkin gue bikin alasan sendiri. Biasanya kebiasaan ini gue akalin dengan cara memaksakan diri untuk nulis. Gak bisa engga, pada malam hari gue harus nulis. Mau tulisannya jelek, juga gak papa.. toh besoknya baru akan gue benerin. Tulisan jelek lebih baik daripada tidak ada tulisan sama sekali. Lagian, nulis satu cerita aja bisa sampai beberapa draft, masih ada kemungkinan buat diperbaiki di kemudian hari kalau mood gue lagi bagus.

Hufft,
dalam beberapa hari ini gue akan berusaha buat aktif lagi nulis.
Karena sekarang, yang gue liat sendiri, gaya penulisan gue gak sedikit udah banyak yang berubah.
Dari tulisan awal blog, gaya penulisannya ke anak ABG-an banget: alay!
Ke tengah-tengah, udah agak bitter sweet.
Dan sekarang... entahlah, kalian yang bisa nilai sendiri.

Oke, cukup sekian pemberitahuan dari gue.
Setelah hampir satu tahun blog ini hiatus panjang.

Salam cenat-cenut!
Share:

Sabtu, 30 Mei 2015

Sebuah Wacana

Pernah terpikir ingin menuliskan sebuah cerita.
Cerita dimana masa itu bermula, dan dimasa itu belum ada seorangpun yang tau.
Karena gue tau, terkadang, ingatan atau memori di kepala bisa hilang kapan saja.
Dengan cerita yang akan gue tulis nanti, gue berharap hal yang terjadi dalam kehidupan gue bisa kekal, dan entah suatu hari nanti mungkin akan menjadi sebuah kenangan yang terbuka kembali.

(skip)
Share:

Rabu, 27 Mei 2015

Minggu, 26 April 2015

Selasa, 07 April 2015

Sabtu, 04 April 2015

Post After Brokenheart

Terkadang,
patah hati bisa membuat seseorang susah tidur.

Tengah malam kemaren, gue baru ngalamin patah hati. Gue baru saja berpisah dengan hati yang sudah menemani gue selama 5 bulan. Tepat hari ini, tanggal 4 dini hari, sebenarnya adalah tanggal kebahagiaan kita berdua. Akan tetapi hari ini, tanggal itu telah menjadi tanggal terakhir kita.

Sambil menulis ini, gue mendengarkan lagunya Rick Price yang berjudul Heaven Knows. Gak tau kenapa, nulis sambil mendengarkan lagu tersebut ngebuat gue ngerasa sedih, melancholic, dan ada hasrat untuk nulis sesuatu. Ada banyak perasaan yang pengen gue keluarin, gue pengen cerita, yang tidak bisa gue definisikan perasaan seperti apa itu.

Di tengah perasaan yang campur aduk, gue mulai menulis. Huruf demi huruf, merangkai kalimat menjadi paragraf, dan tanpa gue sadari, gue larut dalam kata-kata. Lalu gue menyenderkan badan ke kursi. Gue buka lagi received call dan sms dia malam itu,. Gue terdiam, meresapi dan mencoba memahami apa maksud dari sms itu. Gue baca ulang, rasa sedih yang amat sangat menggelayuti pikiran dan perasaan gue. Gue begitu rapuh.

Gue menulis, menulis, dan menulis. Sampai capek menulis, gue ngeliat ke langit-langit kamar... merenung sendirian. Disinilah gue: jutaan kilometer dari rumah, menulis tentang seseorang yang baru saja pergi. Seseorang yang telah membuat hati gue dipecahkan menjadi ribuan serpihan kecil, yang lalu coba gue kumpulkan kembali. Yang gue coba, perlahan-lahan, bentuk kembali...untuk menata kembali hati gue yang telah hancur.

Gue melihat jam, sudah jam dua pagi. Lalu gue mencoba untuk melupakan semua tentang hal itu, tapi tetap, gue tidak bisa. Tidak berapa lama, gue membuang waktu dengan mengedip, mencoba untuk tidak berpikir apa-apa. Gue menaruh handphone, lalu dengan malas tiduran di atas tempat tidur.

Sepuluh, dua puluh menit,
waktu berlalu,
gue masih gak bisa tidur.

Mungkin memang benar.
Terkadang, patah hati bisa membuat seseorang susah tidur.
Share: